[wpseo_breadcrumb]

Keikhlasan yang Membawa Kebaikan Melimpah

Facebook
Twitter
LinkedIn
Telegram
WhatsApp

Kisah ini dialami oleh Qodhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi Al-Bazzaz Al-Anshori . ’Al-Bazzaz pernah tinggal di Makkah. Pada suatu hari, ia ditimpa kelaparan yang sangat. Ia tidak memiliki sedikitpun makanan untuk menghilangkan rasa laparnya. Ketika itu di suatu tempat, ia menemukan sebuah kantong berbahan sutra yang diikat dengan tali sutra. Ia mengambilnya dan membawanya pulang ke rumah. Di dalam rumah ia membukanya dan ternyata isinya adalah sebuah kalung mutiara yang indah yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Ketika keluar rumah, al-Bazzaz mendengar ada orang tua yang sedang mencari kalung mutiaranya yang hilang yang ciri-cirinya sama persis dengan apa yang ditemukannya. Orang tua itu berjanji akan memberikan hadiah sebesar 500 dinar bagi siapa saja yang mengembalikan kalung mutiaranya yang hilang itu.” Dalam hati, Al-Bazzaz berkata, ‘Aku sedang butuh uang dan sangat lapar. Aku akan mengembalikan kalung mutiarannya dan mengambil hadiah darinya uang sebesar 500 dinar.’

Al-Bazzaz berkata kepadanya, ‘Ikutlah bersamaku. Aku akan membawamu ke rumahku, di rumahku telah aku simpan kalungmu.’ Kalung mutiara itu pun dikembalikan kepada orang tua itu. Orang tua itu pun menyerahkan uang 500 dinar kepada al-Bazzaz sebagai hadiah, tetapi al-Bazzaz tidak mau mengambilnya. Ia mengembalikan kalung mutiara itu ikhlas karena Alloh dan hanya memohon balasan yang baik kepada Alloh.

Beberapa hari setelahnya, al-Bazzaz pergi meninggalkan kota Mekkah dengan mengarungi lautan. Tiba-tiba, perahu yang ditumpangi al-Bazzaz karang diterjang badai, seluruh penumpangnya tenggelam. Hanya al-Bazzaz yang selamat dengan berpegangan pada pecahan kayu perahu tersebut. Al-Bazzaz terombang-ambing di lautan dalam beberapa waktu, tanpa tahu kemana lautan akan membawanya. Hingga al-Bazzaz terdampar di sebuah pulau yang ada penduduknya. Al-Bazzaz beristirahat di sebuah masjid yang ada di pulau itu sambil membaca Al-Qur’an. Ketika Al-Bazzaz membaca al-Qur’an, penduduk pulau itu mendengarkan bacaan Al-Qur’annya. Mereka takjub dengan kepandaian al-Bazzaz membaca Al-Qur’an dan meminta al-Bazzaz untuk mengajarkan mereka baca tulis Al-Qur’an.
Setelah beberapa lama al-Bazzaz tinggal di kampung itu, ia ditawari oleh penduduk kampung untuk menikahi seorang anak perempuan yatim kaya raya yang ada di pulau itu. al-Bazzaz pun menerima tawaran mereka.

Di hari pernikahannya, al-Bazzaz melihat sebuah kalung mutiara di leher anak perempuan yang baru dinikahinya itu, dan kalung itulah yang dulu ia temukan ketika di Makkah dan dikembalikan kepada sang kakek pemilik kalung itu. Ia hanya terpaku memandanginya. Ia pun menceritakan kisah kalung mutiara yang pernah ia temukan dulu kepada penduduk kampung itu. Mereka terperanjat kaget, sembari mengucapkan takbir dan tahlil, hingga suara takbir mereka terdengar oleh seluruh penduduk pulau. Aku bertanya ‘Ada apa dengan kalian?’ Mereka menjawab, “Ya Syaikh, pemilik kalung itu adalah ayah wanita ini. Ayah wanita ini pernah mengatakan, “Aku belum pernah menemukan seorang muslim sejati di dunia ini, selain orang yang telah mengembalikan kalung mutiaraku ini kepadaku.” Lalu, ia berdoa, ”Ya Alloh, kumpulkanlah ia denganku, sehingga aku dapat menikahkannya dengan putriku.” Dan sekarang doanya itu telah tewujud ya Syaikh.

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x